Sabtu, Mei 18, 2024

Bupati Kashiuw Ajak Orang Muda Papua Tidak Jadi Generasi Cengeng

MANOKWARI, Kasuarinews.id – Bupati Teluk Bintuni Ir. Petrus Kashiuw, MT mengajak pemuda-pemudi Papua agar menjadi generasi muda yang optimis dengan fighting spirit yang tinggi.
“Jangan jadi generasi yang cengeng dan suka mengeluh saja. Jadilah generasi muda yang punya inovasi dan kreativitas di tengah masyarakat yang majemuk di tengah persaingan global,” ungkap Kashiuw saat pelantikan pengurus KP2IT di salah satu hotel di Manokwari .
“Generasi muda Papua sudah saatnya meninggalkan kebiasaan suka mengeluh. Sikap seperti ini membuat kita menjadi apatis dan antipati terhadap kemajuan perubahan. Kita harus optimis melihat masa depan dengan prinsip kalo orang lain bisa, kita juga harus bisa bahkan lebih dari bisa,” ujar Kashiuw lebih jauh.
Kashiuw pun membagikan pengalaman hidupnya bahwa dirinya tidak pernah bermimpi menjadi Bupati saat kuliah dulu.
“Dulu selesai kuliah di Fakultas Pertanian Uncen (Faperta ) Amban, saya berdiri di depan orang untuk bicara pimpin rapat saja saya gugup. Namun setelah bekerja di perusahaan kayu Hendrison Iriana Bintuni di tahun 1989 saya belajar banyak dari orang tua-tua baik WNI juga asing bagaimana jadi pemimpin.
Akhirnya ketika jadi PNS lalu tugas di Bapeda Manokwari, saya dipercaya pimpinan teman- teman lain sudah tidak cangung hingga kini garis tangan suratan takdir mengantarkan saya jadi Bupati Bintuni.
Memang kata orang bijak sesuatu tidak terjadi begitu saja namun harus dimulai dari diri kita. Saya ini datang dari keluarga tidak mampu. Orang tua saya guru penginjil Katolik di Bintuni dan ibu saya orang Papua asli dari 7 suku yakni suku Irarutu di Bintuni.
Bapak dari suku Kei Maluku Tenggara. Bapa pensiun saat itu saya kelas 6 SD.
Saat kecil saya selalu bersama mama di dusun pangur sagu saat pulang sekolah.
Bahkan selalu mama suruh saya jualan sayur, kasbi, keladi keliling ke rumah tetangga di Bintuni. Kami tiga bersaudara semua laki-laki. Mama masih hidup dan saat masih muda, dia rajin berkebun.
Sejak kuliah di Feperta Uncen Amban atau masa bedara-dara dulu itu, saya lalui dengan kesabaran dan jiwa besar. Saya ingat, saat kuliah orang tua tidak pernah kirim uang dan saya tinggal di komplek misi dengan om yang seorang guru di SD YPPK Misi. Selama 4 tahun saya pergi kuliah pulang balik jalan kaki. Bahkan karena lapar harus makan pisang bakar agar bisa kenyang untuk kuliah. Di tengah keterbatasan ini, saya selalu berusha untuk tidak kalah dari segi pendidikan dari teman-teman lain yang orang tuanya lebih mampu dari sisi ekonomi. Dan di tengah perjuangan yang keras saya bisa menyelesiakan kuliah tepat waktu. Semua itu karena kerja keras bukan karena cengeng dan mengeluh.
Saya selalu ingat mama saya seorang perempuan Papua yang hebat yang sudah 9 bulan mengandung saya membesarkan dan mendidik saya tentang pentingnya kemandirian, serta kerja keras. Semoga adik-adik saya, anak- anak Papua mari kita berjuang membela hak kita dengan jadi pekerja keras dan selalu optimis akan hari depan,” ungkap Kashiuw. (KN1)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

18 + 6 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir