Minggu, April 21, 2024

Hayati Sengsara Yesus, Umat Katolik Paroki Imanuel Sanggeng, Manokwari Rayakan Jumat Agung

MANOKWARI, Kasuarinews.id – Ribuan umat Gereja Katolik Paroki Imanuel Sanggeng, Manokwari merayakan Ibadah Jumat Agung sebagai penghayatan sengsara dan kematian Yesus pada Jumat (7/4/2023). Ibadah tersebut dipimpin selebran utama Pastor Philips Sedik, OSA.
Dalam homili yang disampaikan Pastor Philip Sedik, ia mengatakan bahwa di balik penderitaan Yesus, sejatinya ada prinsip dan makna yang penting untuk dipahami dan diteladani.
Yesus melalui penderitaannya, kata dia, mengajarkan kepada manusia bagaimana menghadapi penderitaan dan kematiannya.
“Penderitaan Tuhan Yesus menjadi contoh dan tuntunan bagi kita dalam menghadapi kesulitan dan persoalan hidup. Tuhan Yesus ingin kita sebagai pengikutnya belajar dan mengambil makna terdalam dari semua peristiwa yang dideritanya dan mencontoh bagaimana respon dan timbal balik Yesus atas segala peristiwa yang dialami,” ujar Pastor Sedik.
Dia menyebut bahwa teladan Yesus tidak dapat disandingkan dengan ukuran teladan dunia karena Yesus mengajarkan suatu kaidah yang bertolak belakang dengan dunia. “Oleh karena itu, Yesus mengajarkan kepada manusia untuk tidak berhenti sebatas kepada pemahaman akal budi saja,” kata Pastor Philip Sedik.
Untuk itu, dia pun menjelaskan sembilan prinsip atau makna yang dapat diteladani oleh manusia dalam kehidupan sehari melalui kronologis peristiwa sengsara dan kematian Yesus.
Sembilan teladan tersebut di antaranya pengkhianatan Yudas, Yesus berdoa di Taman Getsemani, Yesus dihadapkan dengan Mahkamah Agama, Petrus menyangkal Yesus, penyerahan Yesus kepada Pilatus, Yesus diolok-olok, penyaliban Yesus, dan kematian Yesus.
Dia berharap, umat Katolik Paroki Imanuel Sanggeng dapat meneladani kasih kepada Yesus sesama sebagai fondasi kehidupan, yang terus terhubung melalui doa dan firman, perubahan pola pikir dan akal budi dan penguasaan diri dan tidak hanya menjadi Orang Katolik Napas. “Banyak yang hadir di sini adalah Katolik Napas, yaitu Katolik saat Natal dan Paskah saja setelah itu sudah tidak pernah menginjakkan kaki di gereja,” tandas pastor Philip.
Kemudian kekuatan bertahan dalam penderitaan dan pengampunan tanpa syarat, kerendahan hati, melepaskan egoisme dan kepentingan diri serta rela berkorban hidup. “Penuh rasa syukur percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus dan mengandalkan-Nya dalam segala perkara,” tutup Pastor Philip.
Pantauan Kasuarinews.id, begitu banyaknya umat yang hadir sehingga tempat yang disediakan panitia tidak mencukupi sehingga sebagian umat terpaksa harus berdiri di jalan raya. Pada kesempatan ini juga umat diberikan kesempatan untuk menyembah salib Yesus. (KN2)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

four × 3 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir