Rabu, Mei 22, 2024

Inkulturasi Budaya Papua dalam Gereja adalah Wujud Penghargaan terhadap Budaya Lokal

SORONG, Kasuarinews.id – Hilarion Datus Lega Pr, Uskup Keuskupan Manokwari -Sorong mengatakan bahwa inkulturasi ajaran katolik dalam gereja Katolik dalam bentuk misa etnik Papua dan pegelaran budaya Papua dalam rangka Perayaan Paskah 2023 yang digelar, Kamis (13/4/2023) di Gereja Kritus Raja, Katedral Sorong merupakan wujud nyata bahwa gereja Katolik amat menghargai budaya lokal Papua yang adalah khasana budaya bangsa yang harus diangkat ditempat istimewa dalam gereja Katolik. Misa etnik dan pegeralaran budaya Papua ini diikuti oleh umat Papua yang berasal dari stasi SP3, Aimas, Intimpura, Tanjung Kasuari serta sekitaran Koat Sorong. Hadir pula sejumlah tokoh seperti Gabriel Asem, Bupati Asmat Elisa Kambu dan tokoh lainnya.
“Paskah bagi orang Kristiani adalah kebangkitan Tuhan Yesus dari alam maut dimana Dia tidak akan mati mati lagi. Di sisi lain mati adalah perjalanan akhir dari kehidupan secara biologis manusia. Namun secara teologis Yesus dengan kebangkitanNya dari alam maut tidak akan mati mati lagi. Dengan demikian halnya orang yang percaya kepadaNya juga akan mati dan bangkit bersama Dia dan tidak mati lagi,’ ungkap Datus Lega sambil mengambil contoh tokoh Abraham dalam Perjanjian Lama dan Bunda Maria dalam Perjanjian Baru.
“Kedua tokoh ini memberi pelajaran yang amat mendasar dalam iman kepercayaan pada Tuhan. Abraham adalah orang yang taat terhadap janji Tuhan yaitu selama 40 tahun untuk kembali ke tanah terjanji. Demikian halnya Bunda Maria, orang yang taat menerima kabar tentang Yesus, melahirkan dan membesarkan Yesus hingga memeluk Yesus saat diturunkan dari salib. Umat Kristiani harus mencontoh dua tokoh itu,” ujar Datus Lega lebih jauh.
Kata Datus Lega, kunci dari predikat kekatolikan yaitu harus rela berkorban dengan mempertahankan kualitas iman secara bertanggungjawab. “Dan penghargaan terhadap budaya Papua harus diangkat lewat inkulturasi budaya setempat. Dan Gereja melihat budaya Papua harus masuk lewat program inkulturasi seperti lagu, tari, seni ukir, perhiasan dan anyaman. Misalnya lagu haleluya atau tarian saat persembahan. Kita harus bisa hilangkan dan tinggalkan pandangan bahwa gereja lebih hebat dan budaya orang Papua. Itu cara pandang yang keliru. Dengan melihat pentingnya budaya dalam lagu dan tari ini jadi kesempatan kita mengikis yang kurang baik. Sebab dengan mengangkat lagu, tari juga corak ukiran Papua merupakan penghargaan terhadap budaya Papua sesuai dengan pepatah dimana bumi dipijak di situ langit dijujung,” ungkap Datus Lega.
Pastor Isak Bame Pr, Moderator Kerasulan Awam Keuskupan Manokwari Sorong mengatakan bahwa unsur dan nilai-nilai budaya lokal Papua sudah saatnya diinkulturasikan dalam liturgi sehingga menjadi nafas dan warna dalam liturgi gereja. (KN5)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ten + 10 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir