Kamis, Mei 23, 2024

Para Tokoh Gereja Katolik Minta Bantuan Hibah 3 Milyar bagi Pelaksanaan Kongres Pemuda Katolik Diusut Tuntas

MANOKWARI, Kasuarinews.id – Para tokoh Katolik di Provinsi Papua Barat meminta agar polemik bantuan dana hibah Pemprov Papua Barat sebesar Rp. 3 milyar seperti yang diungkapkan praktisi hukum Yan Ch. Warinussy, SH bagi pelaksanaan Kongres Pemuda Katolik di  Papua Barat yang batal digelar segera dapat diluruskan agar tidak menimbulkan fitnah dan prasangka. “Kalo benar, Pemprov Papua Barat kasih dana hibah sebesar itu, ya silakan diusut tuntas,” demikian benang merah yang disampaikan sejumlah tokoh Katolik seperti Mantan Ketua Pemuda Katolik Komda Papua Barat Alberth Asem, SE, Anggota DPR Papua Barat Drs. Barnabas Sedik, juga Moderator Pemuda Katolik Papua Barat, Pastor Izak Bame, Pr.

Menurut Alberth Asem, dirinya memang mendapat informasi PK mengajukan proposal ke Pemprov Papua Barat untuk mendapat dana hibah bagi pelaksanaan Kongres Pemuda Katolik di Raja Ampat, tetapi faktanya tempat Kongres dipindahkan ke Semarang. “Persoalannya, jika dana hibah itu sudah diberikan tetapi Kongres batal digelar di Raja Ampat, uangnya dikemanakan?” tanya Asem.

Menurut dia, sejauh pengalamannya, bisa saja dana hibah itu digunakan untuk melakukan konsolidasi oganisasi PK ke sejumlah kabupaten/kota yang PKnya belum terbentuk. “Saya prediksi uang itu digunakan untuk pembentukan PK di tingkat kabupaten/kota yang belum ada. Saya punya pengalaman saat menjabat Ketua PK dulu, untuk membentuk PK di kabupaten/kota sangat tidak mudah. Ada yang menyambut baik, ada juga yang tidak. Misalnya, di Teluk Wondama bupati saat itu alm. Albert Torey memberikan respon sangat positif dan mendukung penuh. Syukur dibawah kepengurusan PK periode ini, PK hampir terbentuk di seluruh kabupaten/kota di Papua Barat. Ini kinerja yang luar biasa. Sehingga bagi saya tidak ada masalah jika dana hibah itu sebagian digunakan untuk konsolidasi organisasi sejauh bukan untuk kepentingan pribadi,” ungkap Asem.

Meski demikian, kata dia, dirinya setuju pemberian dana hibah dengan jumlah 3 milyar itu dapat diusut tutas. “Ini soal pertanggungjawaban. Kalo bisa dilakukan audit agar diketahui dana digunakan untuk apa. Jika ada temuan, diusut tuntas,” ungkap Alberth.

Sementara itu, Drs. Barnabas Sedik, anggota DPR Papua Barat Fraksi Otsus mengatakan, dirinya akan mengecek hal tersebut agar memperoleh gambaran yang utuh. “Saya akan cek hal itu. Apakah benar ada bantuan hibah 3 milyar bagi pelaksanaan Kongres Pemuda Katolik. Kalo benar ada, pertanggungjawabannya ke mana karena kita semua tahu, Kongres tidak dapat digelar di Raja Ampat tetapi di Semarang. Kalo untuk kepentingan organisasi, tidak apa-apa, jangan sampai jika benar uangnya sudah cair tetapi  digunakan untuk kepentingan pribadi orang per orang dan kelompok tertentu. Itu yang harus ditelusuri. Tapi saya akan cek,” ungkap Sedik.

Di sisi lain, Izak Bame, Pr, Pastor Moderator Pemuda Katolik Komda Papua Barat, meskipun setuju agar kasus tersebut dibuat terang-benar agar tidak menimbulkan kecurigaan, namun dia memiliki pendapat yang agak berbeda.

“Saya tahu persis rencana Kongres Pemuda Katolik. Pengurus Pusat PK maunya, kongres itu dipersiapakan jauh-jauh hari meski belum ada uang. Tapi Pengurus PK Komda Papua Barat maunya ada uang dulu baru lakukan persiapan. Karena tunggu uang lama, sedangkan waktu Kongres sudah mepet akhirnya pengurus Pusat PK memindahkan  kongres ke Semarang. Mungkin Pengurus PK Komda Papua Barat tunggu uang 3 milyar itu baru buat persiapan sedangan waktu makin mempet tetapi tidak ada persiapan apa-apa akhirnya dipindahkan,” ujar Bame.

Kata Bame, menurut pemahaman pribadinya, sejuah tidak ada laporan dari Inspektorat atau BPK perihal bantuan hibah 3 milyar bagi pelaksanaan Kongres, sebenarnya tidak ada masalah. “Yang berikan bantuan hibah kan Pemprov Papua Barat. Sejauh pemerintah provinsi anggap tidak ada masalah dengan dana hibah 3 milyar itu, sebenarnya untuk apa dipersoalkan. Yang kasih bantuan saja tidak repot, malah orang lain yang repot. Namun secara secara pribadi saya  juga setuju, agar persoalan itu dibuat terang-benderang agar tidak ada fitnah dan bakucuriga,” ungkap Bame.

Di sisi lain, kata Bame, dirinya sangat menghargai apa yang disampaikan praktisi hukum Yan Ch. Wariniussy, SH yang mendesak kepolisian mengusut tuntas dana hibah 3 milyar tersebut. “Apa yang disampaikan pa Warinussy juga sangat baik, namun alangkah baiknya pa Warinussy juga kritis kepada pihak lain. Terlalu banyak kasus dugaan korupsi dan penyalahgunaan keuangan yang dilakukan oleh oknum-oknum di kabupaten/kota, bahkan provinsi yang nilainya begitu besar. Apakah Pa Warinussy juga kritis melihat hal itu?,” tantang Bame. (Omar)

 

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

nine + 9 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir