Sabtu, Juli 20, 2024

Pawai Budaya Papua Barat, Klagifi: Bagian dari Merawat Jati Diri Kebinekaan dalam Semangat Gotong-Royong

MANOKWARI, Kasuarinews.id – Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan kebudayaan Papua Barat, Yance Klagifi kepada Kasuarinews.id, Rabu (9/2/2022) memastikan bahwa Pawai Budaya memperingati Hari Seni Budaya Papua Barat akan digelar pada Kamis (10/2/2022) pukul 12.00 Wit setelah hampir 2 tahun vakum. “Pawai Budaya tersebut diikuti oleh suku-suku Papua  dan suku Nusnatara lainnya di Manokwari baik suku Wamena, Arfak, Biak, Serui, Waropen, Toraja, Madura, Batak, Ternate, Bugis, Kei, Tanimbar, Flobamora dan lainnya. Dan memang hampir dua tahun terakhir, euforia bernuansa kebinekaan nusantara ini tak lagi didapati dan bisa dirayakan dalam riuh pawai budaya. Situasi pandemi memang membatasi ruang bagi perayaan seperti ini,” ujar Yance.

Menurutnya, dalam pawai budaya tersebut, setiap budaya entah Papua dan Nusantara akan menampilkan ciri khas kedaerahannya lewat busana, alat musik dan asesoris lainnya. “Setiap suku yang tampil dalam pawai budaya itu sejatinya adalah cerminan kebanggaan pada kekayaan kebinekaan yang dimiliki bangsa ini. Juga, sebagai ekspresi rasa syukur nikmat dan menghargai kearifan lokal, yang ingin terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Itu yang menjadi latar-belakang pawai budaya, yaitu membangkitkan rasa cinta akan budaya sendiri dan menghargai budaya suku lain,” tandas Yance.

Lanjut Yance, sebagai anak bangsa, kita semestinya sadar dan bisa memaknai kebinekaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kebhinekaan dalam arti sebenarnya sebagai kenyataan kemajemukan bangsa, dengan ras, bahasa, agama dan adat-istiadat budaya yang berbeda-beda. Kemajemukan bangsa ini sudah disepakati para tokoh pendiri bangsa, menjadi bagian falsafah dan dasar negara. Yakni, Bhinneka Tunggal Ika, artinya ‘Berbeda-beda, namun Tetap Satu.’

Bahkan, kebinekaan Indonesia ini adalah jati diri bangsa. Jati diri dalam keberagaman bangsa yang semestinya bisa dibanggakan selama-lamanya, dimanapun dan dalam situasi apapun.

‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang sebenarnya ikrar kesetiaan bangsa, sehingga akan senantiasa merasa saling menyadari keberagaman, dan tetap menjaga persatuan dalam berbagai perbedaan yang ada.

Maka, kata dia, memaknai kebinekaan Indonesia bukanlah sempit, sekadar jargon simbolik yang hanya bisa diwakili gambar atau penampilan berbeda-beda berbagai suku bangsa. Akan tetapi, kebinekaan yang kaya perbedaan, yang harus saling dihargai satu sama lain dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat seperti yang ditampilkan setiap suku dalam pawai budaya. “Inilah  nilai dan esensi yang sangat penting dari pawai budaya yang sering dilupakan. Orang kira hanya pakai pakain adat, kumpul ramai-ramai, jalan dan bubar. Padahal nilainya jauh lebih dari itu. Mungkin karena padangan seperti itu, anggaran yang diberikan untuk kegiatan pawai budaya juga kecil, tidak seberapa. Hal ini menjadi keluhan para kepala suku saat pertemuan. Para kepala suku melihat nilai di balik pawai budaya jauh lebih besar sehingga meminta agar anggarannya juga ditambah di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

“Harus diingat bahwa masalah kesenjangan kesejahteraan masyarakat misalnya, akan mudah mengganggu stabilitas kemajemukan bangsa ini. Kemakmuran yang tak berkeadilan, bisa memperlebar kesenjangan dan memunculkan kecemburuan yang berakibat perpecahan bangsa.  Masa sulit pandemi kini, mudah saja menjadikan bangsa ini terpuruk dan lemah. Maka, gotong royong dalam kebinekaan adalah jawaban yang bisa menguatkan. Gotong royong yang melahirkan empati dan solidaritas, serta membangkitkan kerja sama, tolong-menolong dan kerelawanan semua bangsa dan antar sesama. Hal itulah yang akan coba dimaknai dari pawai Budaya nanti,” tandas Yance. (Omar)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

19 + thirteen =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir