Kamis, Mei 23, 2024

PP Tak Akui Hasil Muskomda Fakfak dan Ambil Alih Kepengurusan Pemuda Katolik Papua Barat, Yustina: Saya Dipilih Secara Sah

MANOKWARI, Kasuarinews.id– Musyawarah Komisariat Daerah (Muskomda) Pemuda Katolik Papua Barat di Fakfak yang berlangsung dari tanggal 17-19 Februari 2022 tidak diakui oleh Pengurus Pusat Pemuda Katolik. Artinya, Muskomda Papua Barat yang diselenggarakan di Hotel Grand Papua Fakfak itu dinyatakan batal karena situasi dan pertimbangan organisasi sehingga tidak membuahkan hasil apapun. Hal ini diungkapkan Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik Pengurus Pusat Pemuda Katolik Yustinus Hendro Wuarmanuk yang hadir sebagai salah satu delegasi PP Pemuda Katolik pada pelaksanaan Muskomda saat dikonfirmasi Kasuarinews.id Minggu (20/2/2022) malam. “Memang benar, Muskomda Pemuda Katolik Papua Barat di Fakfak batal tanpa hasil apapun sehingga Pengurus Pusat sendiri mengambil alih kepengurusan Pemuda Katolik Komda Papua Barat,” ungkap Wuarmanuk singkat.

Sehubungan dengan pelaksaan Muskomda tersebut kata dia, PP Pemuda Katolik telah mengeluarkan  10 point pernyataan sikap antara lain;

  1. Muskomda Papua Barat yang diselenggarakan di Hotel Grand Papua di Fakfak pada 17-19 Februari 2022 batal karena situasi dan pertimbangan organisasi. Pengurus Pusat menegaskan: Muskomda Papua Barat di Fakfak tidak pernah terlaksana sesuai mekanisme organisasi.
  2. Terkait pernyataan terpilihnya saudari Yustina, Pemuda Katolik TIDAK memiliki aturan tentang Muskomda Luar Biasa. Sehingga pernyataan terpilihnya itu adalah klaim dan tidak berdasar dan tidak memenuhi aturan dan mekanisme organisasi. Karenanya ini adalah berita bohong, hoax, dan organisasi akan mengambil tindakan serius terhadap berita pembohongan karena mencederai marwah organisasi. Perlu digarisbawahi bahwa Pemuda Katolik adalah milik seluruh kader dan bukan hanya segelintir orang.
  3. Data kepesertaan Muskomda tumpang tindih. Seharusnya, ada 12 kabupaten dan 1 kota. Tetapi ada beberapa Komcab yang memiliki delegasi ganda. Hal ini dibuktikan dengan kegagalan menujukkan Surat Delegasi dan SK Komcab yang sah serta keengganan mengikuti proses roll call.
  4. Suasana dan kondisi ruangan sidang menjadi tidak steril karena verifikasi panitia tidak clear. Beberapa peserta Komcab dengan delegasi ganda berada dalam ruangan. Selain itu, beberapa orang yang tidah berhubungan dengan Pemuda Katolik termasuk yang mengklaim senior juga berada dalam ruangan. Keberadaan orang-orang ini turut memprovokasi forum.
  5. Secara teknis pimpinan sidang memulai dengan roll call untuk validasi kepesertaan. Namun beberapa pihak termasuk non-Pemuda Katolik dan pendukungan saudari Yustina Ogoney memaksa untuk tidak perlu ada roll call tetapi langsung membuka sidang pleno.
  6. Terkait nomor 5, pimpinan sidang tidak bergeming karena mengacu pada Protap dan aturan organisasi. Pemimpin sidang adalah unsur Pengurus Pusat, Komda, dan Stering Committe.
  7. Karena proses roll call tidak bisa berjalan sesuai Protap dan aturan, maka Pimpinan Sidang memutuskan untuk menghentikan persidangan. Selanjutnya Pengurus Pusat berkoordinasi dengan Stering Commite untuk meminta penilaian terhadap kondisi Muskomda. Dalam penilaian ini, panitia pengarah juga setuju untuk menghentikan persidangan.
  8. Pertimbangan Stering Commite karena Muskomda tidak bisa berjalan dengan kegagalan verifikasi kepesertaan dan kehadiran pihak-pihak tertentu yang tidak berhubungan dengan Pemuda Katolik. Selain itu, beberapa orang (peserta dan non peserta) sebelum memasuki ruang persidangan sudah dipengaruhi oleh minuman keras. Persidangan dihentikan pada Pkl. 00.30 WIT
  9. Dalam proses selanjutnya, tepatnya Pkl. 12.00 WIT beberapa Komcab yang mendukung Saudari Yustina menekan Pengurus Pusat dengan mendatangi Kamar No. 229 di mana Pengurus Pusat tinggal. Mereka mendesak supaya Pengurus Pusat tetap melanjutkan persidangan. Tidak tertekan sama sekali, Pengurus Pusat dengan tegas MENOLAK lantaran kepesertaan yang tidak jelas.
  10. Kondisi oknum-oknum ini ketika mendatangi kamar Pengurus Pusat dalam emosi yang membara dan dalam dipengaruhi alkohol. Menghindari situasi yang tidak memungkinkan, pihak keamanan hotel meminta agar oknum-oknum ini keluar dari kamar, tetapi mereka terus mengintimidasi perwakilan pengurus pusat yang hadir. Terkait ini Pengurus Pusat TIDAK BERGEMING.

Dan berdasarkan poin-poin di atas, Pengurus Pusat menegaskan bahwa saudari Yustina Ogoney bukan Ketua Komda Papua Barat karena Muskomda III Papua Barat tidak pernah terlaksana. Pernyataan sikap ini ditandatangani oleh delegasi Pengurus Pusat Pemuda Katolik pada Muskomda Papua Barat yaitu Edward Wirawan (Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Pengurus Pusat Pemuda Katolik), Aloysius Siep, SE (Koordinator Pemuda Katolik Papua dan Papua Barat Pengurus Pusat Pemuda Katolik) dan Yustinus Hendro Wuarmanuk (Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik Pengurus Pusat Pemuda Katolik).

Di sisi lain,  Yustina Ogoney yang terpilih secara aklamasi oleh 8 Komcab PK dalam Muskomda III PK Papua Barat untuk memimpin PK Komda Papua Barat kepada Kasuarinews.id saat dihubungi Minggu (20/2/2022) menegaskan bahwa pemilihan dirinya dalam Muskomda sah karena peserta yang hadir memenuhi kuorum sesuai AD/ART organisasi. “Saya secara aklamasi dipilih oleh 8 Komcab. Soal dinamika dalam organisasi, itu hal yang biasa seperti pada organisasi lainnya. Jadi saya terpilih ini melalui proses dan sudah dipikirkan matang oleh Komcab yang memiliki hak suara,” ujarnya.

Yustina pun menceritakan proses pelaksanaan Muskomda III Pemuda Katolik dari awal hingga akhir yang berlangsung lancar yang diwarnai oleh aksi walk out pimpinan sidang, delegasi Pengurus Pusat dan SC  sehingga pimpinan sidang diambil alih oleh Sekretaris II PK Komda Papua Barat. “Yang walk out itu PP, Pimpinan Sidang dan SC sendiri,” ujarnya.

Menurut dia, setelah pembukaan Muskomda, delegasi Pengurus Pusat (PP) PK dan  SC kemudian naik ke meja sidang dan langsung membahas tatib. Saat pembahasan tatib, peserta yang hadir dalam forum meminta dengan jelas dan tegas agar SK Komda Pemuda Katolik Papua Barat dibuka dan ditayangkan di layar infocus agar dapat dilihat dan diketahui oleh seluruh forum. “Ada 8 Komcab dari 11 Komcab yang minta agar SK Komda dibuka. Tiga Komcab yang tidak ada yaitu Pegaf. Untuk Wondama, pengurus Komcabnya ada tetapi  karena vakum lama mereka memberi keterangan bahwa belum ada musyawarah apapun sehingga tidak punya hak suara sehingga hanya ada 11 Komcab yang ikut Muskomda. Dari 11 itu, 8 Komcab minta agar pimpinan sidang dan SC menampilkan SK Komda, setelah ditampilkan barusan masuk ke verifikasi peserta. Tetapi permintaan 8 Komcab itu ditolak mentah-mentah oleh delegasi pusat, pimpinan sidang dan SC. Artinya, peserta sudah minta berkali-kali tetapi pimpian sidang,  delegasi PP dan SC tidak mau buka SK Komda.  Nah, karena perdebatan, pimpinan sidang sendiri bingung. Bingung karena sekian SK yang dikeluarkan oleh Komda PK Papua Barat tidak melalui pleno di tingkat Komda. Mereka tidak punya bukti, tidak punya salinan SK, hanya kasih keluar SK karateker saja dan mereka mengganti pengurus tanpa pleno di tingkat Komda. Artinya, datanya tidak ada, SK pergantian juga tidak ada sehingga mereka terjebak. Karena situasi demikian, Pa Carry, delegasi dari Fakfak yang dari awal hanya diam karena melihat forum makin panas, kemudian menjelaskan AD/ART dan meminta pimpinan  sidang dapat mengatur agar proses bisa jalan seperti diminta forum. Tetapi, pimpinan sidang yang berasal dari delegasi pusat yaitu Edward Wirawan tidak terima sehingga melakukan aksi  walk out, kemudian  diikuti oleh SC yang juga ikut keluar. Pada saat itu, Ibu Ketua Komda muncul dan bicara sambil terus menekan delegasi  pusat agar proses tetap jalan tanpa menghiraukan permintaan peserta agar  SK Komda dibuka. Jadi anak-anak tidak ribut apapun, malahan ada delegasi pengurus pusat yang tampil ke depan dan menunjuk-nunjuk  muka  pastor moderator Pater Isak Bame yang hadir pada saat itu sebagai representasi Gereja. Jadi yang buat kacau dan walk out itu pimpinan sidang, delegasi pusat dan SC padahal yang hadir saat itu ada pastor, beberapa senior seperti wakil ketua MRP PB Cyrillius Adopak dan sejumlah senior lainnya. Jadi, sebenarnya, Muskomda berjalan lancar hanya satu dua orang yang buat provokasi karena tidak bisa menerima kenyataan. Yang harus diingat adalah Pemuda Katolik adalah organisasi pengkaderan generasi muda Katolik, bukan alat untuk mencari makan atau alat politik,” ungkapnya.

Lanjut Yustina, setelah,  pimpinan sidang, delegasi PP dan SC walk out, peserta tetap berada dalam ruangan dan menunggu hingga  jam 5 pagi sambil terus melakukan negosiasi. “Besoknya Sabtu tanggal 19 Februari pagi, negosiasi masih terus dilanjutkan tetapi pada saat itu salah seorang delegasi dari Pengurus Pusat yaitu Bapak Alo Siep naik ke atas meja sidang dan mengatakan sudah kasih kembali ke pusat. Saat itu, peserta tidak puas. Mereka mau negosiasi dulu, bukan secara sepihak langsung mengembalikan ke pusat. Peserta lantas tidak terima dan tetap menginginkan agar Muskomda tetap berjalan karena sudah membuang biaya dan tenaga untuk menghadiri Muskomda. Peserta kemudian memutuskan melanjutkan Muskomda karena masih ada pengurus Komda Papua Barat lainnya. Akhirnya, peserta memasuki ruangan dan sidang dilanjutkan dan saudara Meto Baru sebagai sekretaris II Komda Papua Barat mengambil alih sidang dan melanjutkan proses seperti biasa sampai berakhirnya proses pemilihan pada jam 15.00 Wit. Dan 8 Komcab secara aklamasi memilih saya sebagai ketua Komda PK Papua Barat. Jadi kronologisnya seperti itu. Jadi tidak benar pernyataan yang disampaikan delegasi dari pusat apalagi sampai mengatakan anak-anak mabuk. Justru sebaliknya, ada oknum SC yang yang mengerahkan ipar-iparnya ke hotel, tetapi karena petugas keamanan di hotel ada, mereka tidak bisa masuk. Jadi sebenarnya, persoalan sangat sederhana, karena mereka sudah berhitung, ada 11 Komcab dan saya didukung 8 Komcab dan pihak lain didukung 3 Komcab dan sudah tahu pasti kalah sehingga dengan sengaja membuat situasi seperti itu. Untuk lebih jelas, proses awal sampai akhir dapat dilihat di video panitia. Semua jelas di sana,” ujar Yustina.

Kata dia, setelah terpilih, pihaknya sudah melaporkan situasi pelaksanaan Muskomda ke pihak Gereja yaitu Keuskupan Manokwari-Sorong. “Saya saat ini ada di rumah Keuskupan dengan beberapa teman untuk menyampaikan apa yang terjadi sebenarnya dengan pelaksanaan Muskomda PK Komda Papua Barat di Fakfak. Kami juga menyerahkan sejumlah dokumen dan video saat berlangsungnya Muskomda biar pihak Gerja juga tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selain menyampaikan hasil Muskomda, saya juga hadir di Kesukupan sebagai Ketua terpilih. Jadi sebenarnya yang buat berita hoax seperti ada peserta yang mabuk dan lainnya itu semuanya tidak benar. Itu dapat dilihat di video panitia. Kan ada juga pastor moderator dan sejumlah senior yang dapat diminta keterangan,” tandas Yustina.

Soal, pernyataan sikap Pengurus Pusat Pemuda Katolik, yang berisikan 10 poin di atas, Yustina Ogoney menyebutkan pro kontra dan dinamika dalam suatu organisasi adalah hal yang sangat wajar. Namun demikian, dengan segala kerendahan hati, Yustina mengajak seluruh generasi muda Katolik di Papua Barat agar bersatu untuk merealisasikan transformasi kemandirian, konstektual, dan berdaya saing dalam masyarakat, gereja dan tanah air, serta membentuk potensi kader dalam berbagai level bidang dan keahlian ke depan lebih baik. “Saya ajak semua Pemuda Katolik untuk bergandengan tangan memajukan Pemuda Katolik di Tanah Papua Barat ke depan untuk membangun gereja dan bangsa. Pertandingan sudah selesai, kita semua adalah saudara, untuk itu saya mengajak semua untuk saling bergandengan tangan membesarkan organisasi ini ke depannya,” ungkapnya. (Omar)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

4 × 3 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir