Sabtu, Juli 20, 2024

Setelah Provinsi Papua Barat Daya Terbentuk, Pemkab Tambrauw akan Mekarkan Kabupaten Mpur

MANOKWARI, Kasuarinews.id – Salah satu tokoh pemekaran Kabupaten Tambrauw Yan R. Kinho kepada Kasuarinews.id, Sabtu (27/8/2022) mengatakan bahwa DPRD dan Pemerintah Kabupaten Tambrauw telah merencanakan pemekaran sebuah DOB di wilayah Tambrauw yang bernama Kabupaten Mpur yang meliptui 11 distrik. Namun wacana itu baru akan ditindaklanjuti jika pemekaran Provinsi Papua Barat Daya direalisasikan. “Jadi sudah dari beberapa tahun lalu, tim pemekaran telah bekerja yang mendapat dukungan penuh dari DPRD dan Pemerintah Tambrauw. Semua dokumen juga telah final, tetapi belum dapat direalisasikan karena pemerintah pusat belum mencabut moratorium pemekaran daerah. Namun lebih dari itu, pemekaran Kabupaten Mpur itu baru ditindaklanjuti jika Provinsi PBD telah terbentuk,” ujar Kinho. Hal ini diungkapkannya untuk menanggapi beberapa pernyataan di sejumlah beberapa hari terakhir ini. “Bagi saya, pernyataan Pj. Bupati Tambrauw di portal berita online Kasuarinews.id sudah benar dan sesuai dengan komitmen awal para tokoh dan pejuang pemekaran Tambrauw. Namun pernyataan sejumlah anggota dewan dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda dan dapat menyesatkan masyarakat,” ungkapnya.

Menurut dia,  komitmen awal para tokoh dan intelektual Tambrauw saat itu adalah wilayah 4 distrik (Mubrani, Senopi, Kebar, Amberbaken yang merupakan daerah bawahan dari kabupaten Manokwari)  yang sekarang sudah dimekarkan Pemkab Tambrauw menjadi 11 distrik  harus dapat keluar dan bergabung dengan 6 distrik  dari Kabupaten Sorong untuk dimekarkan menjadi sebuah  Daerah Otonom Baru (DOB) yang sekarang bernama Kabupaten Tambrauw.

“Kenapa saat itu 4 distrik di Manokwari dan 6 distrik di wilayah Sorong harus keluar dan menentukan nasibnya sendiri? Alasannya karena kedua-duanya memiliki nasib yang sama yaitu kurangnya akses pembangunan di wilayah itu sehingga terjadi kesenjangan luar biasa, terutama kesempatan  untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan dan kesempatan kerja baik di birokrasi pemerintahan dan politik dan sektor lainnya sangat minim,” ungkap Kinho.

Dia mengatakan, setelah terjadi pemekaran wilayah pemerintahan di Provinsi Papua di tahun 2000-an, Kabupaten Manokwari hanya  dapat memekarkan Kabupaten Teluk Bintuni dan Teluk Wondama, sementara Kabupaten Sorong juga mekarkan dua kabupaten yaitu Raja Ampat dan Sorong Selatan. “Hal ini menjadi titik awal intelektual Tambrauw mulai melahirkan ide dan gagasan untuk menghadirkan kabupaten sendiri. Yang mengusulkan pemekaran kabupaten Tambrauw saat itu adalah kabupaten Sorong sebagai kabupaten induk, sementara 4 distrik di kabupaten Manokwari saat itu diperjuangkan oleh intelektual Tambrauw untuk bergabung dengan 6 distrik di wilayah Sorong karena memang sama-sama kurang mendapat akses pembangunan karena sangat terisolir. Fakta saat itu, misalnya soal penerimaan PNS. Di Manokwari, orang Tambrauw yang diterima sebagai PNS tidak lebih dari 5 orang, sama halnya dengan orang Tambrauw di Sorong. Di bidang politik juga sama. Sejak tahun 70-an sampai dengan tahun 90-an setelah reformasi, orang Tambrauw yang terpilih sebagai anggota DPRD hanya 3 orang,  sama halnya dengan di Sorong,” terang Kinho.

Kata dia, semua keterbatasan inilah yang terbesit dalam pikiran para tokoh dan intelektual Tambrauw saat itu agar segera membuat keputusan sehingga wilayah Tambrauw tidak terlambat dalam memperjuangkan nasibnya sendiri.

“Bisa dibayangkan sendiri, kalau 4 distrik dan 6 distrik tidak dimekarkan menjadi DOB Tambrauw. Bagaimana  nasib anak-anak Tambrauw yang lulus SMA dan sarjana hingga saat ini? Pasti banyak yang mengganggur, begitu pula di bidang politik atau yg menjadi anggota DPRD. Dan hari ini, fakta menunjukan bahwa telah terjadi begitu banyak perubahan di Tambrauw baik pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan kesempatan kerja baik di pemerintahan maupun di lembaga politik dan sektor lainnya. Komitmen awal saat itu oleh para tokoh  bahwa 4 distrik saat itu bergabung sementara dengan 6 distrik dan suatu saat dia harus dimekarkan menjadi DOB telah disepakati saat itu dan bersifat final dan itu bukan hal yang baru dipikirkan sekarang. Namun hal itu baru ditindaklanjuti saja,” jelas Kinho.

Dia juga menegaskan bahwa, penggabungan 4 distrik ke DOB Tambrauw saat itu tidak ada pemaksaan dari pihak manapun  tetapi semata-mata keinginan murni  masyarakat. “Saya sebagai tokoh muda saat itu yang dipercayakan oleh ketua LMA AKK  Bapak alm. Yoseph Thomas Hay, BA dan Kepala Suku Besar AKK Bapak alm. Hofni Ajoi untuk menyelenggarakan Musdat I  masyarakat Amberbaken, Kebar dan Karon (AKK) di Manokwari tahun 2004 di BLK Manokwari. Dan sebagai saksi bahwa ketika undangan Musdat yang diantar oleh Arnold Emil Titit (alm) dan Yohanis Manim untuk wilayah Kebar raya dan saudara Kristian Kapaway untuk Amberbaken raya, masyarakat yang secara spontan  hadir melebihi undangan  yang diedarkan. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada pemaksaan atau pencaplokan wilayah 4 distrik tetapi murni keinginan rakyat setelah puluhan tahun mereka tidak pernah  tersentuh pembangunan dan sering dipinggirkan dalam setiap proses pembangunan. Dan jika sampai hari ini masih ada pernyataan atau ancaman dari tokoh yang bukan orang Tambrauw mungkin karena terjadi miscomunikasi saja. Tetapi yang sesungguhnya terjadi ke depan adalah 11 distrik di wilayah Mpur gunung dan Mpur pantai akan memiliki DOB sendiri. Dan jika itu sudah terbentuk maka genaplah apa yang dicita-citakan oleh para tokoh dan pejuang pemekaran 20 tahun yang lalu. Mari kita sama-sama mendoakan para tokoh yang telah meninggal dunia karena dari  pikiran dan kerja keras mereka, Tambrauw telah mengalami perubahan. Hari ini bisa dihitung berapa banyak anak Tambrauw yang sudah menjadi PNS atau anggota DPRD, yang  menjadi dokter, pilot dan sarjana di berbagai  disiplin ilmu. Dan harus diingat bahwa, tidak ada orang lain yang dapat merubah nasib sebuah kaum kecuali kaum itu sendiri yang bangkit untuk mengubah nasibnya sendiri,” tandas Kinho. (KN5)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

14 − 8 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir