Minggu, Juli 21, 2024

Bungkus Kah Tidak? Spiritualitas dan Dunia Batin PSK 55 Maruni (Sebuah Reportase Realisme Etnografis)

Penulis: Jo Kelwulan*)

Sampai saat ini begitu banyak esai, buku dan tulisan lepas entah ilmiah atau fiksi tentang pelacuran yang ditulis pelbagai kalangan, tetapi tidak membuat komoditi persundalan ini berakhir. Hal tersebut menyiratkan bahwa, persundalan (baca: pelacuran) adalah sebuah dunia penuh misteri yang tidak penah akan selesai ditelanjangi. Namun sebagai suatu misteri, kehidupan pelacuran akan tetap menjadi subyek penelitian dan reportase yang menarik banyak kalangan karena bisa mengungkap banyak dimensi dan hal tentang sisi  gelap dan kelam kehidupan anak manusia. Tulisan sederhana ini merupakan sebuah reportase dan pengamantan saya yang bersifat agak pribadi selama sekitar 15  tahun belakangan yang secara intens melakukan pengamatan untuk melihat dari dekat kehidupan pelacuran di komplek 55 Maruni dengan pendekatan realisme etnografis.  Reportase ini bertolak dari asumsi dasar untuk mencari tahu: faktor apakah yang paling mempengaruhi keputusan perempuan-perempuan PSK di Maruni  untuk menjalani profesi itu?

Tulisan ini merupakan reportase lepas dari cerita-cerita tentang manusia biasa dengan kepahitan hidupnya, dengan keuletan menghadapi tantangan dengan keangkuhannya dengan segala kepura-puraaan, dengan segala kelebihan sebagai manusia di tengah pergolakan manusia modern yang makin menantang, alim, sok suci dan kudus.

Dalam upaya memperdalam reportase, saya memaduhkannya dengan kerangka pemikiran reproduksi sosialisnya Bordieu dan Postmodernnya Baudrillard. Kerangka ini digunakan untuk menganalisis proses reproduksi sosial di komplek Perum 55 Maruni yang semakin bersifat ke arah non market-place, karena terjadinya pertumbuhan dan perkembangan Manokwari sebagai ibukota Provinsi Papua Barat yang semakin terbuka dan ‚Äėdiserbu‚Äô kaum migran yang berasal dari pelbagai suku, agama dan laterbelakang sosial.

Tulisan ini tak lebih dari dari sekedar upaya strukturisasi pengalaman dekat saya bergaul dengan perempuan-perempuan pelacur 55 Maruni yang menurut pandangan masyarakat umumnya diketegorikan sebagai masyarakat kelas rendahan yang layak dipandang negatif dan dikucilkan, itupun dengan intensitas sangat terbatas. Karena itu saya lebih suka menyebut tulisan  ini sebagai catatan yang agak pribadi perihal perempuan-perempuan pelacur 55 Maruni.

Jalan Bandung: Terminus Ad Quo

Bagi warga masyarakat Manokwari, terutama lelaki hidung belang, nama lokalisai ¬†Perum 55¬† ¬†Maruni sudah tidak asing. Sama dengan Tanjung Elmo di Jayapura, Kilo 10 di Timika, Malanu di Sorong, Pasar Inpres di Biak¬† dan tempat lainnya. ¬†Komplek yang menjadi pusat bisnis ‚Äėdaging mentah‚Äô ini berjarak 21 km ke arah Selatan Kota Manokwari, terletak di Keluarhan Anday, Distrik Manokwari Selatan, RT 4/RW 1. Lokalisasi Maruni pada dasarnya sama dengan komplek pemukiman warga lainnya. Yang membedakan adalah fungsi dan aktivitas manusia yang ada di dalamnya. Sampai pada November 2019, terdapat kurang lebih 42 wisma yang ada di lokalisasi 55 Maruni yang berdiri berjejer rapi layaknya pemukiman warga lainnya. Saat ini Komplek lokasiasi 55 Maruni didiami oleh kurang lebih 340 jiwa yang terdiri dari PSK¬† 180 orang yang umumumnya berumur 19-45 tahun,¬† pemilik wisama 30 orang, pengelola wisama 70 orang,¬† dan wargha lainnya 60 orang yang terdiri dari pengusaha rumah makan, laundry, ojek, pengamanan dan lainnya. Para PSK ini sebagian besar berasal dari Jawa terutama Jawa Tengah dan Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. (Sumber Data: Ketua RT 55 Maruni, Idrus Hanafi)

Titik awal yang menjadi terminus ad quo  dari lokalisasi 55 Maruni tak terlepas dari perkembangan kota Manokwari di tahun 80- an yang saat itu berkembang menjadi kota pelabuhan dan perdagangan. Di era itu, Manokwari menjadi daerah persinggahan menuju dan dari Jayapura, Ibukota Provinsi Irian Jaya kala itu.
Praktek prostitusi ikut bergerak maju seiring dengan geliat perkembangan kota. ‚ÄúSaat itu, daerah Jalan Bandung tepatnya di belakang Hotel Sederhana (Kini Hotel Pusaka) yang berjarak kurang lebih 1, 5 km dari Pelabuhan Manokwari menjadi pusat prostitusi di Manokwari,‚ÄĚ ujar almahrum Ferry Lutlutur, Mantan Ketua RT Perum 55 Maruni.

Saiyem, seorang pensiunan PSK ‚Äėlulusan‚Äô jalan Bandung yang kini telah berusia uzur mengatakan, praktek prostitusi yang berkembang pesat kala itu di Manokwari dengan basisnya di jalan Bandung mulai dianggap bermasalah apalagi berhimpitan dengan pemukiman warga. Karena makin meresahkan itulah maka antara tahun tahun 1983-1984, pemkab Manokwari dibantu aparat gencar melakukan razia bahkan menangkap pramuria. ‚ÄúSaya juga pernah kenah razia, ditangkap dan ditahan dengan beberapa orang teman,‚ÄĚ ujar Saiyem mengisahkan masa lalunya.
Dari aneka peristiwa yang terjadi, pada tahun 1985 pemkab Manokwari berupaya menertibkan tempat prostitusi liar yang bersinggungan dengan pemukiman warga ini dan mengarahkan para PSK yang berbisnis di jalan Bandung ke arah Selatan Kota Manokwari tepatnya di daerah Maruni.  Bupati Manokwari kala itu mengeluarkan produk hukum yaitu SK Bupati Nomor 24/ BUP/ MKW/1986 tentang pembentukan tim penanggulangan/ rehabilitasi WTS, yang direvisi melalui SK bupati No 40 Tahun 1988.

Menurut Saiyem, ¬†latar belakang sejarah lokalisasi Maruni tak terlepas dari kecemasan pemkab Manokwari saat itu, terhadap merebaknya prostitusi di Kota Manokwari. Para PSK ¬†dilokalisir agar aktivitas prostitusi lebih terkontrol. ¬†Pemerintah kemudian menyiapkan¬† lahan seluas satu hektar yang dibeli¬† warga pemukim pertama di kawasan lokalisasi 55. ‚ÄúKami buat rumah secara swadaya di atas tanah satu hektar itu, lantas berkembang seperti sekarang,‚ÄĚ ¬†ujar Saiyem yang dibenarkan¬† almahrum Ferry Lutlutur. ¬†Lokalisasi yang awalnya dibangun apa adanya kini telah berubah wajah seiring dengan perkembagan zaman. Yang tidak berubah hanyalah jalan masuk berjak kurang lebih 200 km yang kini telah diaspal mulus.

Spiritualitas:  Harga Seorang Pelacur

Pada tahun 1987, Subagio Sastrowardoyo menulis sepotong sajak kecil berjudul, ‚ÄėDoa Seorang WTS‚Äô. Konon sejak tersebut digubah berdasarkan pengalaman dekatnya bergaul dengan pelacur-pelacur. Sajak tersebut berkisah tentang pengakuan seorang ibu¬† beranak tiga yang masih kecil-kecil akan statusnya sebagai pelacur. Inilah sajaknya: ¬†‚ÄúTuhan Jangan harapkan saya sempurna. Kesucian saya tidak mungkin bisa pulih. Laki saya kerja di pabrik rokok. Yang dibawah pulang saban bulan cuma Rp. 10.000,- selebihnya dihabiskan di meja judi. Sedangkan anak-anak masih kecil. Mereka perlu makan, perlu obat kalo sakit, perlu pakaian dan sekolah. Mana bisa cukup uang segitu.¬† Pernah saya coba jualan pakaian dan menjaga tokoh tapi hasilnya cuma pas-pasan. Lalu beginilah saya jadinya. Sekali-kali saya diajak hidung belang ke Jakarta, bermalam di hotel mewah. Lumayan pendapatannya. Sudah tidak terhitung berapa lelaki yang meniduri saya. Bisa saya rentang dari jalan Solo sampai¬† Jogya. Saya tidak sedih, tidak berkeluh kesah, justru ini nasib yang saya pilih. Saya tidak peduli pada neraka. Yang saya cari cuma surga. Bilanglah mana yang disebut dosa kalo memang butuh menyambung nyawa. Ah, Tuhan jangan harapkan saya sempurna.‚ÄĚ

Membaca sajak tersebut, saya seperti dipaska mengakui pernyataan F.X. Rudi Gunawan. Dalam bukunya ‚ÄúPelacur dan Politikus,‚ÄĚ ¬†mantan jurnalis ini mengatakan bahwa pelacuran terkait erat dengan banyak sisi gelap manusia, seperti kemiskinan, ketiadaan-harapan, nasib buruk dan lainnya. Sisi gelap itu merupakan ‚Äėkekuatan represif‚Äô yang paling memaksa banyak perempuan subsistens untuk menceburkan diri dalam kubangan prostitusi?.

Tentang keterpaksaan perempuan-perempuan subsistens yang menjajakan kemaluannya untuk mendapatkan setetes rejeki. saya teringat pada sepenggal catatan harian seorang mantan pelacur 55 Maruni bernana Sumati, 37 tahun asal Tulungagung.

Ia menulis: Malam lebaran 2006, Gema takbir mengharu-biru. Tapi Perum¬† 55 Maruni sepi menyayat. Hanya segelintir pelacur yang tersisa, lainnya memilih mudik atau entah kemana. Malam itu seharusnya saya sudah harus beritirahat. Tapi isi dompet yang kosong membuat nyaliku ciut karena permintaan 2 orang anakku yang meminta kado lebaran. Karena itu saya terpaksa ‚Äėberdinas‚Äô lagi sekalipun gemuruh suara orang-orang yang memuji dan mengagungkan nama Tuhan seperti menuding-nuding mukaku. Keterpaksaan membuncahkan perasaan Sumiati dalam gamang. Tapi ‚ÄėTuhan mengasihiku‚Äô katanya. Malam itu Dia melipatgandakan rejekiku sebesar Rp. 1.500.000,- suatu penghasilan yang cukup besar bagi seorang pelacur yang tidak muda lagi.‚ÄĚ

Begitulah meski perempuan-perempuan itu harus menanggung derita sebagai sampah masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, dalam keadaan darurat mereka dapat menjadi orang kudus. Keterpaksaan menjelma diri sebagai semacam berkat sekaligus kutukan. Dalam situasi seperti itu, merekapun mengalami apa yang disebut Simone de Beavoir sebagai problem eksistensial perempuan tipe pelacur.

Menurut tokoh feminisme ini, pelacur adah tipe perempuan yang amat kompleks. Di satu pihak mereka merupakan obyek bagi laki-laki tapi di lain pihak mereka menjadi subyek, karena mengharuskan si pemakai jasa untuk membayar. Dengan kata lain, ia melayani bukan dengan gratis. Sayapun teringat akan cerita salah seorang teman asal Sorong. ‚ÄúSuatu ketika,¬† seorang oknum aparat¬† mengunjungi lokalisasi Malanu. Usai¬† meniduri¬† perempuan pelacur, ia pamit pulang dengan berlagak tidak mau membayar. Terjadi keributan kecil. Sang pelacur meminta bayaran atas pelayanannya tetapi oknum aparat dengan bangga mengatakan, saya aparat. Sang pelacur pun mengatakan, ‚Äėmemangnya ini (maaf) pepe negara sehingga gratis?‚Äô¬† Dari pengakuan mantan Ketua RT 55 Maruni alm. Ferry Lutlutur,¬† banyak pengunjung di lokalisasi 55¬† Maruni pun harus menitipkan KTP, SIM dan identitas lainnya sebagai jaminan di tempat lokalisasi¬† karena tidak memiliki uang untuk membayar pelacur yang telah melayaninya.

Selain itu, perempuan pelacur selalu merasa dibutuhkan dan dicari laki-laki sehingga berbeda dengan perempuan biasa, misalnya seorang ibu atau isteri yang melayani dengan gratis dan pekerjaannya sering tidak dirasahakan penting atau dibutuhkan.

Demikianlah solekan muka yang berlapis-lapis  menjadi tameng dari rasa takut sekaligus kabut tebal yang menyelimuti kehidupan para pelacur selama ini. Tak heran kalo ada orang yang menjuluki kehidupan ini dengan istilah remang-remang.

Sekalipun dianggap yang tertua dalam sejarah pekerjaan manusia, pelacuran sepertinya tidak pernah terdefinisikan. Anehnya,  masyarakat seolah punya kesepakatan tentang warna profesi itu, yaitu kelam. Itulah yang menyebabkan M.A.W. Brower, seorang rohaniwan Katolik dan psikolog dengan tajam mengkritik kesepaktan itu sebagai sikap masyarakat yang munafik dan penuh kebohongan. Kata dia, masyarakat membenci dan menghina para pelacur, tetapi banyak pemerintah daerah tidak malu-malu minta pajak dari hasil usaha mereka. Namun apapun penilaian masyarakat, para pelacur tetaplah manusia biasa yang kadang tersenyum dalam tangis. kadang menangis dalam senyuman. Sementara itu, ada semacam postulat di dunia pelacuran, bahwa bekerja di dunia pelacuran adalah bekerja dengan pertaruhan jiwa raga. Boleh dibilang di dunia itu, tidak ada lagi yang namanya pilihan. Mereka misalnya dituntut untuk selalu siap dan harus mau melayani setiap tamu yang membooking mereka, sekalipun hati terasa pedih dan perih.

Sampai pada titik ini, saya kira kita patut bertanya: spiritualitas apakah yang melandasi mereka (baca: para pelacur) untuk memilih dan terlibat dalam perkajan itu. Etos kerja apa yang membentengi mereka dalam pertaruhan itu? Bagaimana cara mereka mentransendasikan perasaan-perasaan mereka dalam kehidupan sehari-hari?.

Dengan sederetan pertanyaan-pertanyaan tersebut, langkah kaki saya terserert untuk menyusuri gang-gang sempit Perum 55 Maruni, siang dan malam sejak tahun 2004. Dengan perasaan cemas dan bimbang sebagai seorang jurnalis berlatar-belakang Filsafat seribu satu macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran dan sanubari. Saya melihat, mendengar dan merasakan sukacita, sedu-sedan dan kemelarataan perempuan-perempuan meretrice itu. Ternyata, sebagian besar dari perempuan-perempuan penghuni Perum 55 Maruni berstatus ibu.¬† Nama Tuhan yang bertahta di lidah dan hati anak-anak mereka. Sebagian lainnya adalah kekasih yang dikecewakan laki ‚Äďlaki tidak setia layaknya¬† Tumenggung Wiraguna yang menghentkan kaki, meninggalkaan gadis-gadis berkeliaran dan tidak perawan lagi.

Menyadari kenyataan itu membuat hati dan pikiran saya selalu merefleksikan kata-kata C. J. Koch ini, ‚Äú (Ibu) tertawa. Di negeri lain ia adalah seorang perempuan yang anggun. Di sini, ia mengemis dan mungkin menjual diri. Ia adalah kekosongan-kehampaan. Tetapi dengan martabat apa ia mempertahankan dirinya di sekitar kehampaan itu, seperti pakaian nasionalnya yang lusuh dan¬† membalut tubuhnya.‚ÄĚ

Lebih dari itu, sesuai pandangan filsuf Michael Foucault, sesungguhnya citra semacam itu dibangun untuk membungkam eksistensi perempuan-perempaun pelacur, yang dianggap merupakan perwujudan dari apa yang disebut oleh Jean Baudrillar sebagai bujuk rayu birahi setan. Dan lokalisasi adalah tempat yang dipandang paling efektif untuk melaksanakan pembungkaman itu. Sejarah kemudian mencatat keberadaan lokalisasi sebagai simbol stigma masyarakat. Di Indonesia, sejarah pembungkaman itu telah berlangsung sejak zaman kerajaan-kerajaan feodal. Dan kasus perpindahan lokalisasi pelacuran di Manokwari yang semula berada di jalan Bandung bergeser ke Maruni merupakkan contoh paling telanjang dan pembenaran seperti yang dikatakan¬† Hull sebagai pembungkaman dimana di lokalisasi aktivitas dan gerak-gerik perempuan pelacur dikontrol secara ketat oleh Depertemen Sosial melalui sejumlah program pengentasan antara lain latihan ketrampilan dan bimbingan mental. Ironis, kebijakan itu menjadikan pemerintah Orde Baru tak ubahnya sebagai lembaga mucikari. Dan mencermati kenyatan itu, tidak salah jika dikatakan bahwa lokalisasi di Indonesia termasuk¬† Manokwari telah menjadi penjara untuk mendisiplinkan ‚Äėtubuh-tubuh liar‚Äô perempuan-perempuan pelacur. Nah, bagaimana dengan lokalisasi Perum 55 Maruni?

Bungkus Kah Tidak?  (Bersambung…)

*) Penulis Pemerhati Masalah Sosial- Politik. Tinggal di Wosi- Manado.

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

19 − fifteen =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir