Sabtu, April 20, 2024

Ini Cara Caleg di Papua Barat Daya Manfaatkan Waktu Kampanye yang Pendek

SORONG, Kasuarinews.id – Waktu kampanye yang relatif pendek, hanya 50 hari lebih, membuat para caleg di Provinsi Papua Barat Daya memafatkan aktivitas. Door to door jadi pilihan model kampanye yang paling banyak dipilih.

Caleg PDI Perjuangan Dapil 2 Papua Barat Daya, Jonas Kelwulan menyiasati pendeknya waktu kampanye dengan gercep bertemu masyarakat.  “Waktu kampanye yang singkat ini memantik saya bersama tim untuk terus bergerak dan bergerilya turun ke bawah menemui masyarakat pada akar rumput, dari pintu ke pintu. Bergerak menemui masyarakat di tingkat akar rumput  bukan hal baru karena itu merupakan semangat dan jiwa dari PDI Perjuangan sejak dulu bahkan selalu ditegaskan ulang oleh Ibu Ketua Umum. Namun bergerak turun ke masyarakat selalu dilakukan dengan semangat gotongroyong dan soliditas yang tinggi dalam satu komando dan seluruh pengurus, kader, caleg dan struktur partai memahami hal itu,” ujarnya kepada Kasuarinews.id Senin (18/12/2023).

Kepada masyarakat, Jonas Kelwulan memperkenalkan diri dan memberikan pemahaman politik yang baik dan benar. “Yang belum kenal menjadi kenal, yang kenal menjadi yakin, dan yakin menyebar kebaikan informasi tentang siapa saya, dan apa saja yang akan saya lakukan dan ketulusan saya,” kata dia.

Selain door to door, ia juga aktif menghadiri acara masyarakat. Bergerak dari acara ke acara, ia yakin itu adalah ruang efektif untuk memperkenalkan diri.

“Ini menjadi ruang tutur efektif bagi saya, untuk terus saling mengenal, meyakinkan, bahwa saya mencalonkan diri sebagai legislatif, memiliki dasar pemikiran yang utuh, sehingga suara yang akan diberikan masyarakat kepada saya tentu tidak akan sia-sia,” kata dia.

Caleg partai Nasdem dari Dapil 1 Tambrauw  , Frengky Gifelem tak jauh berbeda. Dia memasang target sehari puluhan rumah didatangi dengan sistem door to door.”Sehari puluhan rumah saya datangi,” kata dia.

Frengky menganggap cara itu ampuh. Dengan door to door, ia dapat berbicara dari hati ke hati dengan pemilih. “Saya bisa perkenalkan diri dan mereka dapat melihat ketulusan saya,” kata dia.

Kata Frengky, saat bertemu dengan warga masyarakat, yang dilakukan yaitu memberi pemahaman kepada masyarakat. “Saat ketemu masyarakat, saya kasih pemahaman dan ajak masyarakat untuk memilih seseorang bukan karena mau dapat sesuatu. Kalo mau memilih seseorang karena dikasih misalnya, 100 ribu, 200 ribu atau beras 5 kg maka harga diri kita terlalu rendah. Dalam hal seperti itu, saya bilang ke masyakarat, kalo orang kasih sesuatu, terima saja karena sudah dikasih tetapi jangan pilih orangnya, karena orang itu niatnya tidak baik. Karena apa, karena masyarakat hanya diperalat Caleg yang bersangkuatan untuk mendapat kekuasan.  Yang ada dalam pikiran caleg yang kasih sesuatu, masyarakat itu tidak tahu apa-apa jadi bisa diperalat dengan  memberi  materi seperti barang misalnya beras 5 kg, terigu 1 kg, gula 1 kg dan lainya;  pun bisa dibeli meski hanya dengan 100, 200 ribu. Masakan harga diri masyarakat sama dengan uang 100 ribu, 200 ribu, 500 ribu atau beras 5 kg atau sembako Natal. Saya selalu bilang ke warga, harga diri itu mahal, masakan bisa dibeli dengan uang 100 atau 200 ribu misalnya. Atau harga diri dibeli dengan beras 5 kg atau minyak goreng, supermi dan sprite atau fanta. Ini keliru. Kalo masyarakat terima sesuatu dari seseorang (Caleg), masyarakat telah memberi peluang bagi Caleg untuk berbuat curang. Kalo Caleg  itu terpilih kelak, dia akan memikirkan bagaimana, uang yang telah dikeluarkan bisa kembali dan aspirasi masyarakat sudah tidak diperjuangkan. Atau bisa saja muncul kata-kata, kemarin kan saya sudah bayar lunas, mengapa datang lagi. Ini memang agak klise tetapi warga harus diberi pemahaman yang benar untuk menciptakan pemilu yang bermartabat, Pemilu yang bebas dari politik uang,” tandas Frengky.

Caleg Partai Perindo Dapil 6 (Maybrat Tambrauw) Papua Barat Daya, Thomas Jeferson Baru pun tak jauh berbeda. Politisi muda ini  getol menggelar kampanye terbatas dengan warga, dengan bergerak dari kampung ke kampung. “Saya bergerak dari kampung ke kampung misalnya mulai dari Abun hingga ke Mubrani, dari Kebar hingga ke Maybrat menemui warga. Di kampung yang saya datangi, saya jalan dari rumah ke rumah memberi pemahaman kepada masyarakat. Saya kumpulkan perwakilan keluarga di satu titik rumah,” katanya.

Dia juga rajin door to door. Kepada warga ia membagi bahan kampanye berupa stiker dan kelender. Selain itu, kata Thomas dirinya mulai bergerak sejak bulan Juni menemui masyarakat. “Saya mulai bergerak dari bulan Juni. Saat ketemu warga, apa yang bisa saya bantu ya, saya bantu. Misalnya, membantu pembangunan gereja dan sebagainya,” ujar Thomas Baru. (KN5)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

4 × 1 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir