Sabtu, April 20, 2024

Perempuan Papua Punya Peran Strategis dalam Menjaga Hutan dan Tanah Papua

MANOKWARI, Kasuarinews. id – Kepala Pemerintahan Adat pada Dewan Adat Wilayah III/ Doberai, Samuel Awom membuka secara resmi diskusi yang mengsung tema, “Peran Perempuan Papua Menjaga Tanah dan Hutan,” pekan lalu di Kantor DAP Wilayah III. Diskusi ini diikuti oleh para aktivis perempuan Papua dengan menghadirkan narasumber seperti Yanti Gaspers dari LP3BH Manokwari dan Natalia Yewen, aktifis dari LSM Pusaka Jakarta.

Menurut Awom, banyak kali persoalan yang terjadi saat ini disebabkan karena masalah adat dicampur-aduk dengan persoalan politik, keamanan dan sebagainya. “Kalo bicara adat, itu bicara tentang tanah adat, hutan, sungai dan lainnya. Banyak orang saat ini bicara adat tetapi campur aduk sehingga sudah tidak jelas. Misalnya, ada oknum  yang bicara, saya ini anak adat maka harus dapat jabatan dan sebagainya padahal yang bersangkutan tidak ada tanah adat. Ini yang sering buat kacau,” ungkap Awom.

Kata Awom, peran perempuan dalam adat Papua begitu strategis dan penting bahkan karena bernilai tinggi, dalam budaya Papua, perempuan dianggap dan dilihat sebagai tanah.  “Perempuan Papua dalam  adat dan budaya Papua diasosiasikan sebagai tanah  karena perempuan melahirkan dan menyiapkan generasi baru yang tangguh agar ke depan bisa membangun Papua. Karena itu, perempuan punya peran penting dalam menjaga dan merawat tanah dan hutan di Papua. Coba lihat saja, saat ini banyak investor dan pemodal yang menguasai tanah adat di Papua dan itu bisa dilihat di Manokwari, Jayapura, Sorong, Merauke, Nabire, Wamena dan sebagainya. Karena tanah adat itu dikuasi pemodal maka masyarakat asli mulai kehilangan tempat dan mata pencahariannya seperti bertani, berburu juga tempat inisiasi juga apotik hidup yang dikuasai pemodal. Apalagi kini Papua diincar investor besar seperti kelapa Sawit, investor kayu, emas, gas, minyak  serta lainya yang datang dengan berbagai cara taktiknya hanya untuk merebut tanah adat masyarakat dengan politik adu-adu agar gampang dikuasai. Dalam situasi seperti ini, kaum perempuan Papua harus memainkan perannya,” jelas Awom.

Natalia Yewen, aktifis LSM Pusaka Jakarta mengatakan bahwa dalam budaya Papua seperti budaya  Komoro di Timika perempuan biasa tampil jadi pemimpin untuk membela tanahnya.

“Ini juga saya jumpai di distrik kebar kabupaten Tambrauw dimana ada seorang mama yang harus pegang parang potong kantor perusahaan, potong alat berat ini semata agar tanah yang adalah masa depan anak cucu bisa dijaga sebab dengan masuknya investasi maka masyarakat tidak akan dapat apa- apa karena  hutan akan rusak, sungai tercemar juga lainya,” ungkapnya. (KN2)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

3 × 4 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir