Rabu, Mei 22, 2024

Rencana Pembangunan Situs Kapal Sultan Tidore di Pulau Mansinam Ditentang Karena Bernuansa Politis dan Mengaburkan Sejarah

MANOKWARI, Kasuarinews.id – Penatua dan Koordinator Urusan Pembinaan Pelayanan Jemaat GKI Sion Sanggeng yang juga anggota Komisi Pelayanan dan Pembinaan Jemaat Klasis GKI Manokwari, Yan Ch. Warinussy, SH menentang dan menyampaikan ketidaksetujuannya atas ide Pemerintah Provinsi Papua Barat hendak membangun situs Kapal Sultan Tidore di Pulau Mansinam.

“Saya tentang ide itu karena saya lebih melihat hal itu sebagai sebuah trik politik belaka, dari pada hendak memperkuat Sejarah Pendaratan Injil Tuhan Yesus Kristus di Pulau Mansinam, Teluk Doreh, Tanah Papua. Saya perlu memberikan catatan bahwa Pekabaran Injil ke Tanah Papua adalah gagasan dasar yang dicetuskan oleh seorang pendeta Johannes Evangelista Gossner di Berlin, Jerman tahun 1842. Gossner kemudian bertemu dengan seorang pemuda bernama Carl Wilhelm Ottow asal Luckenwalde, Prussia, Jerman Timur. Pertemuan inilah yang menjadi awal dari perjalanan Ottow dan Geissler (Johan Gottlob) mengarungi samudera Hindia dimulai dari kota pelabuhan Rotterdam, Belanda hingga sampai ke Batavia selama 3 bulan dan 11 hari. Sejarah perjalanan Ottow dan Geissler bersama rekannya Johann Schneider (tukang besi). Mereka inilah yang bersama-sana menempuh perjalanan laut dari Eropah ke Hindia Belanda waktu itu dengan menumpang kapal Abel Tasman,” jelas Warinussy dalam pres rilisnya, Senin (30/1/2023).

Kata Warinussy, sangat penting dalam setiap rencana pembangunan apapun dan model manapun yang hendak dilakukan oleh pemerintah di Pulau Mansinam, sedapat mungkin lebih dahulu meminta pendapat dan saran serta arahan dari Badan Pekerja Sinode Gereja Kristen Injili (BPS GKI) Di Tanah Papua. Sebab perjalanan Pekabaran Injil sesungguhnya bukan dimulai dari wilayah Kesultanan Tidore, tapi sudah dimulai dari Tanah Jerman kemudian singgah untuk hampir 3 tahun antara tahun 1852 hingga 1854 yaitu 9 Mei 1854 ketika Ottow dan Geissler dengan menggunakan kapal laut Padang seperti ditulis oleh Pendeta Dr.Reiner Scheunemann dalam bukunya Ottouw dan Geissler, Iman, Doa, Kasih dan Pengharapan, 2019. “Mereka berangkat dari Batavia ketika itu dengan Kapal laut Padang menuju ke Ternate. Satu situasi yang sedih terjadi disini, ketika itu rekan mereka bernama Schneider tidak dapat turut serta dalam perjalanan ke Ternate karena menderita sakit TBC dan meninggal dunia pada tanggal 22 Maret 1855. Pendeta Reiner menulis pula : “dengan demikian Schneider meski belum sempat sampai ke Tanah Papua adalah martir misi pertama bagi Tanah Papua”,” ujar Warinussy.

Masih menurut Warinussy, di dalam catatan sejarah, kendatipun Ottow dan Geissler tinggal di Ternate untuk hampir setahun setelah tiba 30 Mei 1854 dari Batavia. Sedikitpun tak tertulis bahwa mereka bertemu dengan Sultan Tidore maupun menginjakkan kaki mereka di Tidore, sehingga menurut pandangan saya sebagai seorang Penatua dan Hamba Kristus, bahwa rencana membangun situs kapal Tidore adalah tidak berdasar sama sekali. Sebab kapal yang yang membawa Ottow dan Geissler berangkat dari Ternate ke Pulau Mansinam dan tiba pada tanggal 5 Februari 1855. “Sehingga menurut saya selaku salah satu Penatua GKI Di Tanah Papua dan sebagai Koordinator Urusan Pelayanan Pembinaan  Jemaat (P2J) GKI Sion Sanggeng bahwa rencana pembangunan situs Kapal Tidore yang tidak mendasar tersebut justru dapat mencoreng sejarah Pekabaran Injil di Tanah Papua yang akan dirayakan berusia 168 tahun 2023 ini dan sekaligus menyakitkan bagi Orang-orang Papua yang menjadi tujuan dari perjalanan sejarah Pekabaran Injil itu sendiri dan juga menyakiti hati TUHAN Bapa Sang Pemilik Injil itu pula,” tandas Warinussy. (KN5)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

1 × 5 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir