Sabtu, Mei 18, 2024

Rayakan HUT ke-10, Ini Kata Para Tokoh: Membangun Manokwari Selatan, Jangan dengan Kata Sayang dan Kasihan!

RANSIKI, Kasuarinews.id – Hari Ini,  tanggal 16 November 2022, Kabupaten Manokwari Selatan merayakan HUTnya yang ke-10. Kasuarinews.id berkesempatan berbincang dengan sejumlah tokoh masyarakat terkait apa yang sudah dicapai selama 10 tahun terakhir dan apa yang masih perlu dibenahi.

Moses Anari, Ketua DPRD Kabupaten Manokwari Selatan menilai duet kepemimpinan Bupati Markus Waran dan Wakil Bupati Wempy Rengkung selama ini telah berhasil menjalankan pemerintahan dengan baik apalagi sudah memasuki periode kedua kepemimpinannya. Namun yang masih perlu dibenahi adalah persoalan kemasyarakatan, terutama pemerataan pembangunan sehingga dapat menjangkau semua distrik dan kampung. “Distrik yang paling bekembang adalah Ransiki, Oransbari dan Momiwaren sedangkan 3 distrik lainnya belum. Pembangunan harus merata ke semua wilayah itu. Atau meminjam kata-kata bupati Markus Waran ketika berkampanye saat maju di periode kedua yaitu membangun dari kampung ke kota ,” ujar politis PDI Perjuangan ini.

Ia menilai selama 10 tahun, kemajuan yang dicapai Kabupaten Manokwari Selatan amat siginfikan.”Ada kemajuan berarti dari segi pembangunan fisik meski tidak dapat disangkal ketidakpuasan selalu ada. Dan tidak mungkin pemerintah daerah dapat memuaskan seluruh rakyat dalam waktu bersamaan,” ujarnya sambil menambahkan duet Waran-Rengkung juga mampu mempertahankan situasi Manokwari Selatan tetap aman dan kondusif melalui sejumlah pesta demokrasi. “Mungkin yang perlu dibenahi ke depan sejauh saya lihat dari sisi politik, komunikasi yang lebih baik lagi antara eksekutif dan legislatif. Artinya, eksekutif jangan jalan sendiri. Kalo buat sesuatu apalagi menyangkut nasib masyarakat harus mengajak dan berkomunikasi dengan legislatif. Jangan kami di legislatif  kaget sudah ada sesuatu yang baru tanpa diketahui legislatif,” ungkap Anari.

Pdt. Agus Abisay, S.Th yang seharinya melayani Jemaat Syalom, Wandoki mengatakan, kemajuan yang dicapai Kabupaten Manokwari Selatan selama 10 tahun  terakhir semata-mata karena campur tangan Tuhan. “Bagi saya, di momen HUT ke-10, yang perlu dilakukan pemerintah dan rakyat Mansel adalah bersyukur dan bersyukur karena apa yang dicapai selama ini semata-mata hanya karena campur tangan Tuhan. Selama 10 tahun pemerintah telah bekerja keras meski masih banyak kekurangan. Saya minta rakyat Mansel jangan hanya jadi penonton dan tukung kritik tetapi mau terlibat dalam pembangunan dengan perannya masing-masing,” ujarnya berharap Pemkab Mansel ke depan dapat membuat pemetaan soal kepemilikan lahan sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Ia menilai, perubahan Manokwari Selatan selama 10 tahun sangat kelihatan dari segi pembangunan fisik. “Contoh pembangunan jalan, jembatan dan perumahan serta fasilitas publik seperti pelabuhan laut, bandar udara, pasar, rumah-rumah ibadah, air bersih, penerangan, telekomunikasi, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan Rumah Sakit dan Puskesmas dan  lainnya. Kita hanya harap, fasilitas yang sudah dibangun pemerintah dengan uang yang banyak, tidak dirusak begitu saja, misalnya saat demo dan lainnya,” harap Pdt. Agus Abisay.

Sementara itu, tokoh masyarakat, Reno Tukon melihat bahwa di periode kedua kepemimpinan Bupati Markus Waran dan  Wabup Wempy Rengkung, rakyat Manokwari Selatan akan lebih  optimis menatap masa depan karena kedua pemimpin itu punya cita-cita besar yaitu ingin mewariskan sesuatu yang besar dan bermakna bagi seluruh rakyat Mansel setelah meletakan jabatan kelak. “Saya yakin sebelum meletakan jabatan di periode kedua, Bupati Waran dan Wabup Wempy Rengkung mampu menuntaskan program-program prioritasnya seperti pembangunan kantor bupati, kantor DPRD, dan kantor OPD lainnya,” ujarnya menambahkan selama ini yang belum optimal adalah peran OPD-OPD yang belum mampu menerjemahkan visi-misi bupati ke dalam program yang kongkrit yang dapat dirasakan masyarakat.

Dia juga menilai pembangunan di Kabupaten Manokwari Selatan telah sesuai dengan visi-misi bupati dan wakil bupati. Kata dia, di satu sisi, kemajuan itu sangat kelihatan dari segi fisik tetapi di sisi lain sejumlah daerah terpencil juga pembangunannya perlu digenjot sehingga rakyat di kampung terpencil juga yang dapat merasahkan manfaat kehadiran Kabupaten Manokwari Selatan.

Ia secara tajam menyoroti etos dan kinerja PNS yang bekerja di bawah standar.”Kalo tidak salah salah satu janji PNS adalah siap bertugas dan ditempatkan di mana saja. Tapi ini tidak berlaku di Mansel. Jika memperhatikan sejumlah oknum PNS, mereka bekerja sesuka hatinya karena lebih banyak tinggal di kota. Hari Jumat turun ke Manokwari dan tidak tahu sampai kapan. Faktanya banyak oknum PNS yang hanya rajin masuk kantor saat awal bulan. Istilah kasarnya, mereka kerja di Mansel, uang dibawah keluar Mansel sehingga perputaran ekonomi agak lambat. Selain itu, banyak ASN dan honorer tidak disiplin dengan etos kerja yang rendah. Hal ini sudah berkali-kali diingatkan oleh Bupati, Wabup dan Sekda pada pelbagai kesempatan tetapi seakan tidak mempan,” ujarnya.

Menurut Reno Tukon, inti dari membangun Manokwari Selatan hanya satu yaitu jangan bangun dengan kata sayang dan kasihan karena semuanya akan hancur berantakan. “Misalnya, pimpinan daerah sudah tahu ada oknum ASN yang bermasalah tetapi karena kasihan akhirnya dibiarkan. Ini yang keliru,” ujarnya.

Selain itu yang harus dibenahi oleh pemerintah adalah mengubah mentalitas para ASN agar lebih disiplin dengan etos kerja melayani rakyat atas dasar kasih dan kejujuran. “Kalo ASN bekerja atas dasar kasih dan jujur maka tidak akan korupsi waktu dan uang serta tidak buat rakyat menderita,” ungkapnya.  Tidak hanya itu, pemerintah juga harus bekerja keras untuk mengubah mindset masyarakat, mengubah budaya dan pola pikir masyarakat agar masyarakat dapat bekerja keras dengan kreatif dan tidak selalu mengharapkan kehadiran pemerintah seperti sinterklas. “Artinya, jangan sedikit-sedikit lari ke pemerintah minta bantuan. Ada masalah lari ke bupati, wakil bupati atau sekda minta bantuan. Biar uang 1 gudang pun tidak cukup. Budaya ini harus dihilangkan secara perlahan,” ungkap Tukon.

Mantan Ketua DPRD Manokwari Selatan Esau Ahoren juga memiliki pandangan yang mirip. Menurutnya, sebagai suatu DOB, Manokwari Selatan harus dibangun dengan cara tidak biasa, tidak seperti  kabupaten Manokwari yang usianya sudah tua. “Kalo kita bangun daerah baru kamudian, selalu ada kata kasihan tidak bisa,” ujar Ahoren.

Menurut dia, duet Waran-Rengkung telah meletakan dasar yang tepat bagi proses perkembangan Manokwari Selatan ke depan. “Waran-Rengkung sudah kasih fondasi yang benar. Kalo dari awal sudah salah, seterusnya akan salah tetapi syukur Waran-Rengkung sudah letakan dasar yang benar dan kuat,” ungkap Ahoren.

Persoalan yang  mungkin ke depan akan terjadi, kata Esau Ahoren adalah suksesi kepemimpinan ke depan. “Suksesi kepemimpian di Mansel ini  yang juga harus dipikirkan dan dipersiapkan Bupati Waran dan Wabup Rengkung saat ini. Artinya, pasangan Markus-Wempy sudah tidak bisa maju lagi karena sudah 2 periode. Di sisi lain, tak dipungkiri, begitu banyak anak-anak asli Mansel yang potensial mau maju sebagai pemimpin di daerahnya baik sebagai bupati atau wakil bupati. Saya hanya pesan, hal ini harus dilihat baik. Jangan hanya karena mau maju Pilkada, terjadi konflik dan perpecahan dalam masyarakat. Semua anak Mansel yang sudah memenuhi syarat punya hak untuk maju di Pilkada nanti, tetapi jangan sampai karena Pilkada, masyarakat baku musuh, bakumarah dan terjadi konflik dan perpecahanya. Ini yang harus dijaga betul. Dan Bupati Waran dan Wabup Rengkung harus memikirkan hal ini,” jelas Esau.

Dia juga meminta seluruh masyarakat di Manokwari Selatan agar tidak terlalu berharap banyak kepada bupati dan wakil bupati karena keduanya juga manusia biasa. “Harus diingat, Markus Waran dan Wempy Rengkung bukan Tuhan Allah yang bisa mengubah sesuatu dari tidak ada menjadi ada dalam hitungan menit. Semua butuh proses dan kerja keras, tidak seperti membalik telaka tangan,” ujarnya sambil meminta seluruh masyarakat dapat berperan aktif ikut membantu pemerintah daerah Manokwari Selatan, tidak hanya sebagai penonton. “Kunci dari pembangunan itu adalah damai. Maka saya ajak seluruh warga Mansel jaga keamanan dan ketertiban. Jika semua aman, pembangunan  juga akan lancar,” ujarnya. Dirgahayu Kabupaten Manokwari Selatan ke-10.  (KN2/KN5)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

one × 3 =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir