Sabtu, April 20, 2024

Masuki Masa Pra Paskah, Uskup Datus Lega Ajak Umat Katolik KMS Memulihkan Kehidupan dengan Merawat Ibu Bumi

MANOKWARI, Kasuarinews.id – Pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS) Mgr. Hilarion Datus Lega menyampaikan surat gembala Pra Paskah kepada seluruh umat Katolik KMS. Masa Pra Paskah adalah masa persiapan menuju Hari Raya Paskah selama 40 hari yang ditandai dengan pantang dan puasa dan diawali dengan Hari Rabu Abu, yaitu penerimaan abu pada dahi/kepala umat. Pada kesempatan ini dibacakan surat gembala uskup di setiap keuskupan. Di KMS, surat gembala Pra Paskah 2022 berjudul, “Memulihkan Kehidupan, Merawat Ibu Bumi” ( Kejadian 2 : 15 ).

Datus Lega mengajak umat Katolik KMS agar bisa memaknai aksi tobat di saat masa Pra Paskah hingga Hari raya Paskah kelak dengan Memuliakan Kehidupan dengan cara merawat ibu bumi terutama di saat badai Covid-19 melulu-lantahkan sendi-sendi kehidupan manusia  saat ini dengan cara bertobat. Pertobatan itu membutuhkan tidakan nyata, bukan pernyataan kosong.

 “Mari kita memuliakan kehidupan dengan merawat ibu bumi seperti dalam Kitab Kejadian 2: 15 di saat Covid-19 terutama varian baru Omicron yang  melulu-lantahkan sendi -sendi kehidupan manusia,” tutur Datus Lega dalam surat gembala yang dibacakan Pastor Yan Vanbes pada perayaan Rabu Abu (2/3/2022) di Gereja Agustinus, Brawijaya, Manokwari.

Menurut dia, Covid-19  mengirim pesan berharga kepada seluruh umat manusia bahwa  umat manusia telah gagal memelihara planet bumi ini dengan bertangung jawab sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Kejadian, dimana Tuhan menciptakan manusia dan menempatkannya dalam taman Eden untuk menjaga dan memelihara bumi.

“Covid-9 ini oleh para ahli terjadi awalnya akibat ketidak-seimbangan ekosistem karena kerusakan lingkungan seperti pengundulan hutan, penambangan liar, perburuan satwa liar, pola pertanian yang tidak ramah lingkungan. Mari kita memasuki Pra Paska dengan menujukan aksi tobat kita dengan tindakannya merawat bumi bukan kata-kata tetapi aksi nyata,” ajak Datus Lega.

Dengan mengutip Ensiklik Paus Fransiskus yang berjudul, “Laodato Si”, Datus Lega mengajak umat Katolik KMS agar melakukan aksi nyata melalui semangat pertobatan yaitu bertobat dari sikap konsumtif, keserakahan diganti dengan kemurahan hati dan rela berkorban dan hidup sederhana, mengurangi pengunaan air, tidak membuang sampah plastik juga benda yang sulit di urai alam secara sembarangan terutama ke laut.

Selengkapnya Surat Gembala Uskup KMS adalah  sebagai berikut:

“ Memulihkan Kehidupan , Merawat Ibu Bumi” ( Kejadian 2 : 15 ).

Sejak badai pandemic Covid – 19 meluluh lantahkan sendi-sendi kehidupan kita sampai dengan saat ini Maret 2022. Bersama dengan Varian baru yang dikenal sebagai Omicron, badai Covid – 19 nampaknya belum berhenti. Pandemi memang wabah penyakit yang menyebar cepat ke segala penjuru dunia, dan dengan itu serempak setiap warga berpotensi tertular dengan akibat buruk adalah meninggal dunia.

Menurut data satuan tugas – Satgas Nasional pada bulan Nopember 2021 , jumlah warga Negara RI yang terpapar Covid – 19 mencapai 4.258.409 jiwa, dan dari jumlah itu sebanyak 143.557 jiwa meninggal dunia.

Namun kepanikan dan ketakutan akibat ratusan ribu orang meninggal dunia secara mengenaskan telah memberikan pelajaran maha penting bagi kita dan kehidupan yang harus kita rawat bersama, yaitu:

Memulihkan Kehidupan

Pelajaran pertama yang paling fundamental adalah marilah kita memulihkan kehidupan dengan cara merawat bumi. Pandemik Covid – 19 seakan mengirimkan pesan terpenting bahwasanya kita telah gagal memelihara planet ini dengan bertanggung jawab, sebagaimana telah diamanatkan oleh sang Maha Pencipta sendiri dalam kisah penciptaan manusia seperti kita baca dalam Kitab Kejadian. Setelah Allah menciptakan bumi dan segalah isinya. “ Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkanya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” ( Kej. 2 : 15). Kutipan ini begitu gamblang mewariskan kepada kita kewajian merawat bumi karena hanya dengan itu kita dapat terus memelihara hakikat kehidupan. Pandemi Covid-19 memperlihatkan secara jelas bahwasanya kita tidak dapat hidup sehat bilamana bumi dan serta ekosistimnya pun tidak terawat dengan baik. Asal muasal virus yang mematikan ini tidak terlepas pula dari ulah manusia yang serakah memperlakukan ekosistem bumi dan alam kita.

Para ilmuan menegaskan bahwa penghancuran ekosistem dan keanekaragaman hayati yang menopang kehidupan di bawah bumi ini, telah terjadi melalui penggundulan hutan, penambangan sembarangan, perburuan satwa liar dan tentu saja pola pertanian yang tidak ramah lingkungan.

Aktivitas manusia yang serakah tersebut bukan hanya telah merusak alam, melainkan juga telah memberikan beban berat kepada alam ciptaan Tuhan yang pada giliranya dapat menyebabkan penyakit menular akibat virus dan bakteri.

Pandemi mengingatkan bahwa: Terlalu banyak beban yang menekan alam ciptaan Tuhan ini telah mendatangkan bala bencana.

Bertobat

Oleh karena itu, melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP) Nasional tahun ini kita, sekali lagi diberi peringatan khusus untuk bertobat dari ulah dan perilaku merusak alam. Demikianlah tema APP Nasioal 2022 : “ MEMULIHKAN KEHIDUPAN : Bumi sehat Manusia Sejaterah.” Sebagai mana biasanya aksi (kegiatan) APP kita wajib berwujud dengan tindakan nyata supaya tanda keterlibatan dan solidaritas pertobatan tidak hanya berbentuk pernyataan-pernyataan sikap.

Paus Fransiskus dalam ensiklik ‘Laudato Si’ mengenai pemeliharaan dan perawatan bumi memberikan 3 ( tiga ) saran agar kita bertobat.

Pertama, Mengganti sikap konsumtif dengan pengorbanan, Keserakahan harus diganti dengan kemurahan hari, dan pemborosan harus diganti dengan semangat berbagi. Kedua, Bentuk Pertobatan bisa dengan mengkonsumsi makanan secukupnya saja. Membiasakan diri untuk hidup secukupnya, bahkan hidup sederhana umpamanya dengan mengurangi penggunaan air atau mengurangi penggunaan plastic yang bakal menjadi sampah yang sulit terurai. Ketiga, Melawan budaya individualisme dan pola pikir serba instan dan pragmatis, sehingga tidak memperdulikan bahwa ada sesuatu di sekitar kita dan bahwa alam pun harus ikut dipelihara bersama.

Memang merupakan tanggung jawab kita semua untuk mendukung agenda melestarikan lingkungan hidup dengan apa yang dikenal sebagai “membangun ekologi integral.”  Ini harus didasarkan pada semangat dan keyakinan bahwa samua semua ciptaan merupakan anugerah dan hadiah Tuhan. Karena itu melestarikan lingkungan hidup dengan membangun ekologi integral harus dilakukan dengan penuh rasa syukur bahwa karunia ciptaan Tuhan dapat bertumbuh subur mulai di dalam diri kita sendiri. Karunia itu kemudian dapat menyebar dengan rasa kepedulian kita kepada sesama, terutama merekan yang miskin dan tersingkirkan. Kesaksian Paus Fransiskus, ketikah kita peduli terhadap lingkungan dan sesama yang miskin, kita sedang menuju hidup sejati dengan ciri khasnya: berbagi, solidar dan murah hati.

D o a      

Pelajaran ke dua yang tidak kurang berharganya dari pandemi Covid-19 kepada umat manusia adalah bahwa Tuhan Maha Pencipta tidak perna meninggalkan orang yang percaya kepada-Nya.

Tahun lalu ( 2021 ) saya menuliskan bahwa sikap orang beriman benar adalah kewajibanya bersimpu pada Tuhan yang pasti tidak perna meninggalkan kita. Semua petunjuk dan protocol yang harus dipatuhi untuk memerangi  Covid  tentu saja merupakan bagian integral dari segenap upaya kita. Namun yang paling esensial adalah keyakinan bahwa kita mampu mengatasi pandemic dengan bantuan pertolongan Tuhan-melalui Doa kita.

Sudah barang tentu kita wajib mengambil langkah-langkah nyata dalam membantu sesama pada masa pandemi ini. Langkah-langkah kongrit apapun mentuknya haruslah merupakan tanda keteguhan iman kita lantaran doa-doa yang berkanjang. Bahwasannya dalam masa-masa sulit seperti tidak perna terjadi sebelumnya Tuhan berada di pihak kita. Kita dapat memanjatkan Doa seperti ini. Ya Bapa ya Abba, sudilah senantias menjaga keselamatan kami. Jadilan selalu kehendak-Mu bahwa setiap bentuk derita disingkirkan. Ketakutan dapat menjadikan kami kuat karena Roh-Mu. Keteguhan Iman selalu berbuahkan kasih dan kebaikan sepanjang hidup kami.

Ya Bapa ya Abba, dengan darah putera-Mu, kuduskanlah kami. Dengan kuat kuasa-Mu, niscahya kami tak perna Kau kecewakan. Pada saat-saat yang mengkhawatirkan Engkau tetap meghawasi kami. Engkaulah pemilik kehidupan, sumber penyembuhan dan tempat perlindungan dan kasih setia. (AN)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

five × four =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir