Sabtu, Mei 18, 2024

Hadiri Peringatan HUT PI ke-157, Ketua Sinode GKI Minta Warpaperi Dibangun sebagai Kampung Injil

MANOKWARI, Kasuarinews.id – Jemaat GKI Klasis Amberbaken pada Rabu (25/5/2022) memperingati HUT Pekabaran Injil ke-157 di Kampung Warpaperi, Distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw. Hadir pada perayaan  ini Ketua Sinode GKI di tanah Papua Pdt. Andrikus Mofu,  M.Th, Ketua GKI Klasis Amberbaken Pdt. Christian, warga jemaat GKI dari Klasis Amberbaken dan Kebar. Pada kesempatan ini dilakukan launching buku sejarah pekabran Injil di daerah Amberbaken yang dimulai dari Kampung Warpaperi pada tanggal 25 Mei, 157 tahun lalu.

Ketua Sinode GKI, Pdt. Mofu, M.Th pada kesemaptan ini memint agar warga jemaat GKI Klasis Amberbaken dapat mendorong Warpaperi agar ditetapkan sebagai kampung Injil.

“Warpaperi harus dijadikan sebagai miniatur kampung injil yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Kampung Injil artinya apa? Seluruh gerak-gerik dan nafas kehidupan warga kampung harus dijiwai dengan nilai-nilai Injili. Seperti, tidak ada lagi orang jual miras dan mabuk sembarangan, orang palang jalan, tidak ada lagi kekerasan dan sebagainya, warganya taat beribdah,” tadnas Pdt. Mofu.

Selain membangun kampungf Injil, Pdt. Mofu juga meminta agar warga masyarakat dan  jemaat dapat juga merawat dan menjaga lingkungan hidupnya, terutama hutan. “Saya minta masyarakat harus jaga hutan sebagai warisan terbesar bagi generasi Papua berikutnya dan mampu membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat lain. Hindarilah segala sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai Injili,” tandasnya.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Deky Rumbiak yang juga Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tambrauw mengatakan, peringatan HUT PI ke-157 masuk di wilayah Amberbaken lewat Kampung Warpaperi harus menjadi momentum yang tepat bagi seluruh masyarakat terutama warga Jemaat GKI Klasis Amberbaken untuk membenahi diri sendiri, keluarga dan masyarakat agar menjadi lebih baik. “Setiap tahun kita rayakan HUT PI di Warpaperi. Jangan hanya sebatas perayaan seremonial tetapi harus dijadikan sebagai momentum untuk melakukan suatu perubahan untuk membangun diri, keluarga dan masyarat agar menjadi lebih baik. Kalo tiap tahun kita rayakan HUT PI kemudian masih ada orang jual miras, masih ada orang mabuk, orang kasih rusak hutan, orang palang jalan, masih ada iri, dendam dan benci terhadap sesame, itu berarti perayaan HUT PI tidak punya makna. Mari, kita gunakan momentum perayaan HUT PI untuk bangkit bersama, meninggalkan mansusia lama kita menjadi manusia baru yang penuh damai dan sukacita menatap masa depan,” ungkapnya. (KN4)

 

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

three × two =

- Advertisment -spot_img

Berita Terakhir